Blog entries   |  Halusinasi Gengsi

Halusinasi Gengsi

merenungafriadiajo.com – Gengsi – Ada banyak orang begitu mengagungkan gengsi tanpa sadar  itu menghancurkan hidupnya.

Ketika melakoni pekerjaan sebagai penjual es di pasar Ciputat, saya ditanya seorang kawan cewek, “kamu itu ga malu ya diketahui kawan-kawan?”.

Kala itu saya masih tercatat sebagai mahasiswa IAIN Ciputat (sekarang UIN) dengan status cuti –cuti karena sudah tak mampu lagi bayar uang kuliah dan membiayai hidup sendiri sambil kuliah. Menjual es menjadi pilihan kala itu.

Sebenarnya sih biaya kuliah saya ga mahal-mahal amat: cuma 180 ribu per semester. Setara dengan 30 ribu perbulan. Tapi duit senilai itu, bagi saya, sangat besar. Jangankan nyisihin duit 30 ribu perbulan, buat makan saja lebih sering ga cukup. Tetapi keinginan untuk menyelesaikan kuliah tetap menggebu. Maka, demi menyelamatkan kuliah,  saya melakoni profesi jualan es di pasar ciputat.

Menurut akal sehat mahasiswa lain, mungkin, mahasiswa jualan es di pasar…gengsi dong! Bisa jadi dipandang menurunkan  derajat, pekerjaan rendahan.  Oleh karenanya, sedapat mungkin jangan sampai diketahui kawan, apalagi ngasih tahu.

Tapi rasa seperti itu ga ada dalam kamus hidup saya. Alih-alih sembunyi jika kawan lewat, saya malah memanggil mereka untuk mampir, kasih minum gratis, sambil nanya informasi kampus. Karena “tak tahu malu” itu lah kemudian muluncur pertanyaan seperti di atas dari kawan, “Apa kamu ga malu?”

Jawaban saya singkat padat aja terhadap pertanyaan tersebut. “Kenapa harus malu. Qw harus bangga dong. Qw ini lebih mandiri daripada kalian yang nadah ke ortu.”

Kadang saya juga bertanya pada sendiri: kenapa ‘ga gengsian’. Setelah dipikir-pikir, kemungkinan penyebabnya adalah karena TERLALU AKRAB DENGAN KETERDESAKAN HIDUP. Karenanya saya ga sempat lagi memilah-milih mana yang harus di-gengsiin, mana yang tidak..hehe.

Dan Alhamdulillah, meski kondisi kehidupan saya sudah lebih enak dibanding masa kuliah, sebagian kawan bilang sudah sukses, tapi perasaan gengsi itu masih jauh aja. Nauzubillah, semoga perasaan gengsi itu dijauhkan Tuhan dari saya.

Pada saat sekarang saya berkesimpulan begini: gengsi itu adalah makhluk buas. Ia siap mencelakakan anda jika anda memeliharanya.

Gengsi itu lahir dari cara kita mempersepsi sesuatu sebagai “terhormat” atau “hina”. Karena persepsi, maka sifatnya sangat subjektif. Hina menurut seseorang bisa jadi mulia menurut orang lain. Seperti contoh pekerjaan yang saya lakoni tadi: apakah berjualan es masuk kategori  pekerjaan hina sehingga saya harus malu menjalankannya? Menurut saya tidak. Ini pekerjaan mulia sama sekali. Dan ia tidak melanggar UU apapun di dunia ini. Dan yang melakoni pekerjaan jualan es ratusan ribu orang di seantero dunia.  Lalu, kenapa harus gengsi melakoninya hanya karena saya seorang mahasiswa?

Dunia yang kita huni ini ternyata sudah dikapling-kapling oleh pembikin citra. Ini imbas dari zaman industrialisasi dan teknologi. Pekerjaan-pekerjaan kasar, berdebu, berlumpur, atau memeras keringat seringkali dikategorikan ke dalam kelompok pekerjaan hina, rendahan. Pekerjaan seperti memulung, kuli angkut, jualan keliling, sopir angkot, bertani, asongan, kaki lima, masuk dalam kategori ini. Pekerjaan ini hanya layak dikerjakan oleh orang berpendidikan rendah.

Sementara pekerjaan kantoran atau yang berkaitan dengan industri dan teknologi dianggap sebagai pekerjaan mulia. Mereka yang berpendidikan tinggi selayaknya bergiat di pekerjaan mulia ini (meski pun penghasilannya  jauh lebih rendah dibanding pekerjaan hina tadi).

Ada banyak orang yang merasa “terhormat”, lebih rela menjadi penggangguran daripada harus melakoni pekerjaan “hina”. Kalaupun ia harus melakoni pekerjaan “hina”, maka ia tidak ingin diketahui oleh kawan-kawannya….gengsi dong..!

Secara akal sehat, mereka yang bergelar sarjana tidak akan pernah menjadi pengangguran. Karena, mereka adalah kelompok minoritas terdidik. Orang tamatan SD saja bisa tidak menjadi pengangguran kok, apalagi sarjana. Hanya saja kenyataannya, kita masih sering melihat sarjana jadi pengangguran, itu fakta.

Sarjana yang menjadi pengangguran, kemungkinan karena dia kena virus gengsi tadi. Dia sudah memilah-milih pekerjaan yang “terhormat” dan “hina” untuk dia. Dia memelihara cara pikir begini: “klo ga dapat pekerjaan seperti ini, yo sudah….lebih baik nganggur.” Atau “daripada jadi pedagang es (misalnya) lebih baik ga..biar lah saya nganggur aja. Sarjana kok….”

Artinya, bukan lahan pekerjaan yang kurang untuk sang sarjana itu, tapi jenis pekerjaan yang tersedia, seperti jualan es, pedagang kaki lima, bertani, sales keliling, dsb., menurut pikirannya tidak ‘layak” untuk dirinya. Virus gengsi…

Jika kita runut lebih panjang, dorongan perasaan gengsi juga telah menyeret banyak orang untuk melakukan sesuatu yang mencelakakan dirinya. Sebutlah misalnya mereka yang membeli sesuatu di luar kemampuan isi kantongnya demi gengsi. Akhirnya mereka ambil utang sana-sini. Ada juga yang memanfaatkan ‘rayuan’ kartu kredit. Akhirnya, karena besar pasak daripada tiang, mereka dililit utang, stress dikejar-kejar debt collector, dan seterusnya.

Gengsi seringkali muncul ketika kita berhalusinasi tentang pandangan orang terhadap diri kita. Lalu kita mencoba memenuhi tuntutan halusinasi itu. Celakanya, halusinasi yang muncul seringkali melebihi kenyataan sebenarnya.

Karena gengsi sifatnya hanya halusinasi, maka berhalusinasilah berdasarkan kemampuan diri sendiri dan sesuai kebutuhan, jangan berlandaskan keinginan. Insyaallah selamat!

 

2 Responses to Halusinasi Gengsi

  1. mey Reply

    15/05/2014 at 3:49 am

    Mantap masbro. bner bgt tuh, daripada koar2 susah cari kerja, ga ada lowongan mending kita bekerja dengan memanfaatkan apapun potensi yang kita miliki. Dan bisa dipastikan ini merupakan salah satu faktor banyak orang indonesia menganggur.

  2. andi Reply

    07/08/2016 at 4:13 pm

    mantabb,, aku suka sama isi, dan cara berpikir mas ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>