Blog entries   |  Jangan-Jangan Kita Adalah Malin Kundang

Jangan-Jangan Kita Adalah Malin Kundang

afriadi di UI 600

Saya seringkali berpikir, jangan-jangan secara tidak sadar kita sebenarnya telah bermetamorfosa menjadi Malin Kundang-Malin Kundang modern di alam raya Indonesia ini. Jangan-jangan secara tidak sadar, watak, mental, dan karakter Malin Kundang telah merasuk dalam kesadaran, sikap, dan sifat diri kita. Lebih tepatnya: merasuk ke dalam paradigma kita.

Tulisan ini terinspirasi dari artikel Buya Syafii Ma’arif di Resonansi Republika, berjudul Pilkada di Sumatera Barat 2015 (18/8/2015). Ada Kalimat yang cukup mengentak kesadaran saya dalam artikel tersebut: “Umumnya perantau Minang yang lahir atau pernah di waktu kecilnya tinggal di sana sangat mencintai ranah ini, tetapi tidak betah berlama-lama di sana. Inilah sebuah paradoks psiko-kultural yang dialami para perantau, tidak terkecuali saya yang berasal dari kawasan udik.”  Serta kalimat “Dulu ranah ini mendapat julukan sebagai “industri otak,” kini kita tidak tahu ke mana otak-otak itu bersembunyi.”

Membaca artikel itu, membuat gagasan yang tadinya ada di alam bawah sadar saya naik ke permukaan sadar. Saya coba tuangkan semua itu dalam tulisan ini.

Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa tulisan saya ini, terutama sekali saya maksudkan untuk diri saya sendiri: warga Minang yang sudah lama merantau ke Jakarta, tapi tetap berusaha untuk tidak lupa dengan daerah kelahiran. Selebihnya, semoga tulisan bisa menjadi bahan refleksi kita warga Minangkabau yang sama-sama cinta daerah kita, sekaligus juga cinta tanah air Indonesia, namun kini untuk alasan yang berbeda-beda, sedang berada di tanah rantau.

Jika otokritik dalam tulisan ini kurang berkenan bagi sanak-saudara se-Minang,  “tasingguang dek ka naiak, talantuang dek ka turun”, maaf dipinta sebesar-besarnya.

Saya awali tulisan ini dengan pandangan beberapa intelektual soal peran intelektual. Pandangan Julian Benda tentang peran seorang intelektual, yang tertuang dalam karyanya yang mashyur La Trahison des Clercs (Pengkhianatan Kaum Cendikiawan) sangat elitis. Intelektual diposisikan di menara gading, berjarak dengan realitas. Beda dengan Antonio Gramsci yang justru menempatkan intelektual menyatu atau manunggal dengan realitas sosial di sekitarnya. Dalam Selections From Prison Notebooks (1978), Gramsci berkata: “semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual”. Karena itu, Gramsci membedakan intelektual menjadi dua model: intelektual tradisional dan intelektual organik. Seperti Gramsci, Edward W. Said juga memberikan definisi yang lebih membumi tentang intelektual dan perannya. Bagi Said, intelektual harus menjalankan peran emansipatoris: mengedukasi publik dan mengubah realitas. Intelektual harus menjadi benteng akal sehat yang kritis dihadapan kenyataan.

Minangkabau memiliki sejarah besar dan melahirkan tokoh-tokoh besar. Ranah Minang salah satu daerah yang menorehkan sejarah penting bagi lahirnya tanah air Indonesia. Minang adalah mozaik penting bagi lanskap Indonesia yang ditenun oleh berbagai suku, agama, golongan, dan ras ini. Sederet tokoh besar seperti Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, Agus Salim, Adam Malik, telah memberikan saham perjuangan yang besar bagi pencapaian kemerdekaan Indonesia. Karena tokoh-tokoh inilah Minangkabau mendapat julukan sebagai “industri otak”.

Tapi kini, bagaimana? Disinilah muncul ragam pandangan. Sebagian terlena dengan masa lalu yang cemerlang, tapi lalai dengan kondisi riil saat ini. Sebagian lagi terjebak dalam sinisme, pesimisme, dan persepsi minor-negatif tentang Minangkabau dan masa depannya. Cara pandang kelompok yang kedua ini yang ingin saya soroti dan kritisi dalam tulisan ini. (Dalam hemat saya, sinisme dan pesimisne kelompok ini sebenarnya muncul dari kecintaan mereka pada ranah, bahkan mungkin terlalu cinta pada Minangkabau).

Saya melihat bahwa perantau terkadang secara tidak sadar sudah terjebak pada persepsi pejoratif tentang tanah kelahiran. Kita seringkali tidak sadar sudah mengadopsi cara pandang yang pesimistik dan pejoratif tentang kondisi Minangkabau (Sumbar) kini. Padahal seharusnya sebaliknya: optimistik dan konstruktif. Seakan ada kekesalan melihat realitas ketertinggalan: pembangunan dan kesejahteraan di Minangkabau semakin tertinggal dibanding daerah lain, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin dikakok (tapi) ndak takakok.

Apakah pandangan semacam ini salah dan tidak boleh? Tentu saja sangat sah kita sebagai “Urang Rantau” memiliki perasaan dan persepsi seperti itu. Bahkan, itu bisa dibaca sebagai bentuk kecintaan pada tanah kelahiran, sehingga ketika melihat Minang tidak sesuai harapan ideal, melonjaklah kekecewaan kita.  Kesal. Marah. Hingga keluarlah segoni kata-kata yang bercorak pesimistik, minor, pejoratif, sinistik, dan bahkan keputusasaan.

Tapi, saya sangat khawatir, bahwa sikap seperti ini mencerminkan sebuah paradigma yang negatif tentang daerah asal-muasal kita. Saya khawatir, dibalik kata-kata dan sikap kita yang selalu getir, pejoratif, sinis, dan kesal terhadap ranah Minang itu tersimpan sebuah masalah yang menyangkut cara pandang dan paradigma berpikir kita. Sebuah problem paradigmatik yang sifatnya laten, sehingga kita sebagai “pemilik” cara pandang itu, tak menyadarinya bahwa cara pandang itu bersemayam dalam kepala kita.

Saya seringkali berpikir, jangan-jangan secara tidak sadar kita sebenarnya telah bermetamorfosa menjadi Malin Kundang-Malin Kundang modern di alam raya Indonesia ini. Jangan-jangan secara tidak sadar, watak, mental, dan karakter Malin Kundang telah merasuk dalam kesadaran, sikap, dan sifat diri kita. Lebih tepatnya: merasuk ke dalam paradigma kita.

Malin Kundang legenda yang selalu menjadi pelajaran penting seluruh warga Minang, bahkan rakyat Indonesia. Malin Kundang legenda kebanggaan kita para perantau Minang. Karena kisah ini telah dimasukkan sebagai perbendaharaan budaya Indonesia yang sangat dihormati dan dihargai. Legenda ini telah tumbuh bersama historisitas sosial-budaya Indonesia. Sebagai bagian dari “tulang-daging” masyarakat Indonesia.

Untuk kita para perantau Minang, legenda Malin Kundang berfungsi seperti “alarm” yang akan menyadarkan kita ketika mulai dihinggapi sindrom lupa tanah kelahiran dan lupa diri. “Alarm” itu secara otomatis akan berdenting kencang, ketika dua tanda bahaya itu muncul. Kenapa demikian? Karena dua sindrom itu (lupa diri dan lupa tanah kelahiran) adalah awal menuju ke-lupa-an pada identitas diri sendiri. Terutama identitas diri sebagai urang Minang. Sehingga “alarm” yang bernama Malin Kundang serta merta akan berbunyi nyaring ketika dua sindrom itu datang.

Pesan penting kisah legendaris ini adalah: jangan lupa pada jati diri sendiri. Sosok Ibu dalam kisah Malin Kundang sebenarnya simbol jati diri kita yang otentik dan primordial. Karena Ibu adalah rahim tempat kita dilahirkan. Ibu adalah simbol identitas kita yang paling primordial. Ketika Malin Kundang pulang kampung dan durhaka kepada ibunya, sebenarnya yang ia lakukan adalah kedurhakaan pada jati dirinya sendiri. Ia tidak mau mengakui jati dirinya yang otentik dan primordial. Ketika Malin Kundang melihat Ibunya, ia melihat jati dirinya yang dahulu. Ia tidak mengakui jati dirinya. Ia berusaha mencampakkan masa lalunya. Ia kemudian merasa malu, kecil hati, dan minder dengan semua atribut otentik dan primordialnya. Alhasil, Malin Kundang inferior dengan jati dirinya yang otentik dan primordial. Inferioritas itu ia ekspresikan dalam bentuk kerdurhakaan pada sang Bunda, mencaci-maki Mak-nya (“rahim kelahirannya”: ranah Minang).

Kenapa Malin Kundang inferior? Perjalanan Malin Kundang merantau adalah untuk mengubah nasib ekonominya dan juga status sosialnya.  Ia pamit pada ibunya, pada kampungnya, pergi merantau dengan harapan hidup lebih baik, dengan harapan membahagiakan ibunya. Tapi teryata, setelah sukses secara ekonomi ditanah rantau, kesadarannya (paradigma) juga ikut berubah. Bukan hanya ekonominya yang berubah, tapi juga paradigmanya. Hanya saja yang terjadi mengandung unsur problematis: ekonominya berubah menjadi lebih baik, sementara paradigma berubah menjadi lebih buruk. Padahal, seharusnya paradigma (cara melihat ibu/kampung) tak boleh berubah, karena disanalah letak jati diri seseorang yang otentik.

Jika paradigma seseorang berubah, jati dirinya akan mengalami krisis identitas. Ia akan mudah berganti identitas (ingin menjadi orang lain), karena merasa tidak percaya diri dengan jati diri lamanya. Berkenalan dengan jati diri baru membuat ia membuang jati diri lamanya. Padahal, proses merantau jauh dari tanah kelahiran seharusnya membuat jati diri warga Minang semakin kuat dan solid. Jati diri otentik seharusnya tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan.

Pelajaran penting dari narasi hidup Malin Kundang ini adalah: kesuksesan di rantau tidak boleh mengubah kesadaran otentik kita tentang jati diri kita. Kesadaran jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan kesuksesan, baik kesuksesan ekonomi, pemerintahan, karir profesional, akademis, dan sebagainya.  Apa artinya kesuksesan jika secara kesadaran kita bangkrut? Apa artinya sejahtera secara ekonomi, kaya secara ilmu, jika secara paradigmatik kita “miskin”? Sukses dalam bidang apapun di rantau seharusnya membuat paradigma kita tentang tanah kelahiran semakin “kaya”. Teorinya seharusnya begini: semakin sukses secara penghidupan, maka semakin “kaya” paradigma kita tentang jati diri otentik kita sebagai warga Minang. Jangan malah sebaliknya.

Mungkin saja Malin Kundang tak sadar bahwa kesadarannya telah berubah. Karena perubahan itu terjadi di wilayah bawah sadarnya. Ketika ia berjumpa lagi dengan Ibundanya (simbol jati dirinya) setelah sekian tahun, ia tidak bisa menerima kehadiran jati dirinya yang ia buang jauh-jauh sejak ia merasakan nikmatnya sukses secara ekonomi. Ia menjadi marah dan berusaha mengingkari jati dirinya yang termanifestasikan pada sosok Ibunya.

Sebenarnya itu semua cermin inferioritas diri Malin Kundang. Ia merasa sudah menjadi orang kota, modern, dan maju. Sementara persepsi yang ada dalam kesadarannya tentang kenyataan “kampung halamannya” kini adalah: kampungan, kuno, dan terbelakang. Kedurhakaan Malin Kundang pada ibunya adalah pengingkarannya pada jati dirinya yang otentik. Durhaka pada Ibu berarti menolak jati diri yang paling primordial.

Lalu, apa yang dilakukan Malin Kundang? Mencaci maki Ibundanya. Ia merasa bahwa dengan mencaci Ibundanya (jati diri) berarti sah mendapatkan jati diri yang baru. Padahal sebaliknya: ketika mencaci Ibunya, sebenarnya Malin Kundang mencaci dirinya sendiri. Kenapa? Karena jati diri tak bisa dibuang, apalagi ditukar dengan jati diri yang lain.

Salah satu pelajaran penting dari ini adalah: jangan mencaci maki kemunduran tanah kelahiran kita. Karena mencacinya, berarti ekspresi penolakan kita pada jati diri kita sendiri. Itu menunjukkan inferioritas kita pada jati diri kita.  Jika kita masih belum mampu berkontribusi bagi kemajuan Minangkabau, minimal tidak mencaci-makinya, tidak menjelek-jelekkannya, tidak memiliki persepsi pejoratif atau sinistik terhadap ranah Minang.

Jika Enggan “Ngabdi” di Kampuang

Hal maksimal yang seharusnya dilakukan untuk kampung halaman adalah berkontribusi bagi kemajuannya. Ada banyak pilihan yang bisa dilakukan. Kembali pulang dan membangun Minangkabau adalah pilihan yang sangat berarti. Tapi tak bisa kita pungkiri bahwa “angka kepulangan” orang Minang yang sukses dirantau sangat kecil. Kebanyakan dari kita (saya termasuk didalamnya) masih enggan untuk berkontribusi dengan cara “pulang kampung dan membangun ranah Minang”. Kebanyakan perantau lebih asyik-sibuk di tanah rantau dan merasa takut untuk pulang kampung. Takut kehilangan popularitas, kehilangan jabatan, kehilangan relasi dan akses. Bahkan, ada beberapa kawan yang mendapatkan status PNS-nya di Sumbar, tapi justru memilih untuk pindah tugas penempatan ke Jakarta/Yogyakarta, dsb. Minangkabau ditinggal oleh banyak orang-orang hebatnya. Menurut pandangan awam saya, Minangkabau akan semakin kesulitan menjadi daerah “industri otak” ketika orang-orang hebatnya lebih suka “ngabdi” di daerah Rantau dibanding di Minangkabau (Sumbar).

Saya sadari, memang tak mudah menjatuhkan pilihan pada opsi “pulang kampung”. Tapi masih ada beberapa bentuk kontribusi lainnya yang bisa dilakukan, tanpa harus pulang kampung. Dan kontribusi paling minimal yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak mencaci, menjelek-jelekkan, atau menyudutkan tanah kelahiran kita itu. Karena sikap seperti ini berarti mencaci, menjelek-jelekkan, dan menyudutkan diri sendiri. Ranah Minang adalah kita sendiri.

Memiliki persepsi positif, kontruktif, dan optimistik tentang tanah kelahiran adalah kontribusi minimal yang bisa kita lakukan. Karena pikiran, menurut Pramodya Ananta Toer, sangat penting dan vital perannya. “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” kata Pram. Penilaian kita tentang tanah kelahiran kita itu harus sudah adil sejak dalam pikiran kita. Tidak boleh dzalim, diskriminatif, dan berat sebelah. Dan menurut saya, persepsi negatif, pejoratif, dan minor soal ranah Minang adalah bentuk ketidakadilan paradigmatik (pikiran) kita tentang tanah kelahiran kita itu. Jika sejak dalam pikiran kita sudah tidak adil pada tanah kelahiran kita itu, apalagi pada tataran praktis.

Saya tidak mengarahkan kita-kita untuk membohongi diri sendiri dengan cara tidak mengakui fakta yang terjadi di kampung halaman kita. Jika sebagian dari kita berkesimpulan bahwa ranah Minang tidak mengalami kemajuan, saya tidak berhak membantahnya.  Itu persepsi masing-masing dari kita. Saya juga tidak mengatakan bahwa ranah Minang sudah maju pesat dan tidak perlu dibangun lagi. Tidak. Minang masih harus terus berbenah diri dan membangun. Saya akui dan sadari itu. Tapi bagi saya, berpikiran pejoratif dan sinistik pada kampung halaman tidak akan memberikan manfaat konstruktif apapun. Mengkritik tanah kelahiran tidak boleh dengan cara seperti itu. Kritik harus konstruktif. Bukan destruktif. Harus positif, bukan justru negatif-pejoratif.

Saya secara pribadi, tidak akan menggunakan opsi mengkritik, karena sepenuhnya saya sadar bahwa belum ada kontribusi berarti yang sudah saya berikan bagi kemajuan ranah Minang. Selama saya belum berkontribusi, saya tidak berhak untuk mengajukan kritik. Apalagi mencaci atau menjelek-jelekkan. Itu prinsip yang saya pegang. Tidak berparadigma pejoratif dan negatif adalah kontribusi paling minimal yang bisa kita berikan untuk tanah kelahiran kita itu.

Terkadang saya berpikir, persepsi negatif yang sering dilontarkan intelektual, akademisi, dan cerdik pandai kelahiran Minang tentang tanah kelahirannya itu mungkin saja bentuk inferioritas mereka terhadap modernitas. (Tapi saya mungkin salah. Mungkin saja itu ekspresi cinta mereka pada ranah Minang). Mereka merantau dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, hingga meraih gelar Doktor dan bahkan Profesor. Tidak sedikit dari putra Minang yang meraih gelar akademisnya itu di negeri Barat (Amerika Serikat dan Eropa). Ibarat Maling Kundang seperti dalam legenda yang pergi merantau mencari perbaikan ekonomi. Bedanya, mereka mencari perbaikan ilmu. Tapi sayangnya, meski kedua “Malin Kundang” ini pergi dengan motif berbeda (ekonomi dan ilmu), namun pulang membawa bekal yang sama: inferioritas. Efeknya, terjadi pendurhakaan terhadap jati dirinya yang otentik dan primordial. Bedanya: inferioritas Maling Kundang klasik dipicu faktor ekonomi. Sementara inferioritas “Maling Kundang” era sekarang dipicu oleh modernitas.

Ketika sedang menuntut ilmu di negeri Barat, para intelektual kelahiran Minang berhadapan langsung dengan modernitas. Mereka melihat secara langsung kemegahan dan kemajuan modernitas Barat. Tapi sayangnya, kemajuan dan kemegahan peradaban modern Barat mereka persepsikan secara keliru. Seharusnya, ketika melihat kemajuan Barat, mereka termotivasi untuk memajukan bangsanya sesuai jati dirinya, termasuk juga memajukan tanah kelahirannya (Minangnya). Bukan justru sebaliknya: merasa minder dengan realitas bangsanya dan tanah kelahirannya, dan ingin mengubah jati dirinya dengan jati diri yang lain. Efeknya: menjadikan tanah kelahirannya sebagai sasaran paradigma pejoratifnya.

Kepada para intelektual, akademisi, dan ilmuwan kelahiran Minang yang mengidap gejala inferioritas di hadapan modernitas Barat, saya ingin katakan satu hal: jati diri kita tidak berada di bawah jati diri negeri Barat. Semua jati diri bangsa di dunia ini setara. Jati diri warga Minang setara dengan jati diri budaya lain di negeri seberang. Tak ada alasan untuk inferior dengan ke-Indonesia-an dan ke-Minangkabau-an kita. Apalah artinya intelektualitas kita, jika hanya menimbulkan inferioritas? Bukankah ilmu harusnya menaikkan “derajat mental dan sosial” kita, bukan justru menjatuhkannya?

Janganlah kita menjadi “Malin Kundang intelektual” yang durhaka dengan jati diri otentik dan primordial kita hanya karena inferior di hadapan bangsa lain. Jangan sampai ilmu yang kita dalami justru membuat kita malu dengan identitas kita. Ilmu sejatinya menjadi jembatan kita menemukan diri kita dan mengakui kemuliaan jati diri kita. Ilmu jangan justru menjadi alat untuk mengingkari jati diri kita. Kita merantau untuk menuntut ilmu. Tatkala sudah sukses memperoleh ilmu, tak ada alasan bagi kita untuk malu pada jati diri ke-Minangkabau-an kita. Karena dari rahim ranah Minanglah kita lahir. Setinggi apapun ilmu kita, jika tidak membawa kita pada kesadaran tanah kelahiran kita, berarti ilmu itu bukan hanya tidak bermanfaat, tapi mudharrat (membawa keburukan bagi paradigma kita). Ilmu itu justru membius kita menjadi jati diri bangsa lain.

Saya kadang berefleksi bahwa bukan tidak mungkin para intelektual dan akademisi itu juga mengalami “gegar mental budaya”, karena terlalu terkontaminasi dengan budaya Jakarta atau kota besar lainnya yang metropolis. Saudara-saudara kita itu menikmati banyak hal dari Ibu Kota: finansial, popularitas, jabatan, relasi, dan lain sebagainya. Ketika berada di puncak intelektualitasnya, sanak-saudara kita itu kemudian melihat tanah kelahiran dengan persepsi minor (negatif). Saudara-saudara kita itu melihat ranah Minang dengan persepsi pejoratif. Ranah Minang diposisikan kebalikan dari Jakarta (Jakarta maju dan modern, ranah Minang terbelakang dan kuno). Sehingga mereka merasa enggan untuk melihat “ke  seberang”, tanah kelahirannya. Kalaupun terpaksa melihat “ke seberang”, tatapannya (paradigma dan persepsi) sangat pejoratif dan minor. Intelektual dan akademisi model ini mengalami sindrom inferioritas metropolisme Jakarta. Kampung halamannya dipersepsikan negatif dihadapan Ibu Kota yang telah membesarkan namanya.

Saya sangat salut pada para intelektual Minang yang mengabdikan diri di tanah kelahirannya itu. Mereka mengajar dan menjadi dosen di perguruan tinggi Minang. Meski tak menjanjikan secara finansial, karir dan popularitas, mereka setia mengabdikan ilmunya untuk tanah kelahirannya. Ada beberapa dosen yang saya kenal, menjadi dosen terbang atau tamu untuk perguruan tinggi di tanah Minang. Mereka memang tidak mengabdi penuh di Minang, tapi tetap mencoba memberikan sebagian pengabdian ilmunya di sana. Setiap pekan atau dua pekan, mereka pulang kampung untuk mengabdi. Saya sangat salut kepada intelektual dan akademisi seperti ini.

Saya juga salut pada pengusaha atau pebisnis kelahiran Minang yang menginvestasikan sebagian bisnisnya di tanah kelahirannya. Atau, setidak-tidaknya berkontribusi dengan membangun usaha di sana. Yang mereka lakukan ini bentuk komitmen kecintaan pada tanah kelahiran. Mereka itu semua, tidak pernah berparadigma negatif, pejoratif, dan pesimistik tentang ranah Minang. Saya belum bisa mengabdikan diri sampai di level tersebut. Tapi setidaknya berusaha untuk tidak berparadigma negatif tentang tanah kelahiran saya ini.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kembali mengutip kata-kata Gramsci: semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual. Saya pribadi yakin, setiap orang Minang adalah intelektual, baik yang di tanah rantau atau menetap di sana. Tapi apakah semua menjalankan fungsi dan peran ke-intelektual-an terutama dalam upaya memajukan daerah Minangkabat, Sumatera Barat? Jawabannya ada dalam kesadaran kita masing-masing.

________________

Afriadi Rosdi, Pemred RM Magazine “PRESTISE”, Direktur RMBooks (Penerbitan buku Rakyat Merdeka-Jawa Pos Grup) di Jakarta

2 Responses to Jangan-Jangan Kita Adalah Malin Kundang

  1. Novik Reply

    27/08/2015 at 5:23 am

    Tulisan uda bagus…
    O yo da,,kenalkan, ambo Novik, urang Bukittinggi, kini lagi di Jogja, kapan2, boleh saya ketemu sharing samo uda? Ambo kebetulan editor dan juga sempat nulis buku di Jogja..

    • admin Reply

      31/08/2015 at 8:18 am

      mokasi sanak Novik.
      Sakironyo ingin ngontak, Ambo bisa dihubungi melalui no telp seperti tertera di web.
      Salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>