Blog entries   |  Antara Prabowo dan Obama

Antara Prabowo dan Obama

Prabowo

Pidato politik Prabowo yang beresensi Indonesia akan bubar pada 2030 mendapat kritikan pedas dari banyak pihak. Itu sangat mudah dipahami karena terlalu banyak sudut untuk mengritik pidato tersebut, baik secara retorika politik maupun etika komunikasi.

Dari sisi retorika politik, pidato Prabowo tersebut mengandung sesat-nalar (fallacies) yang sangat jelas. Sesat-nalarnya terletak pada “tak ada hubungan nyata antara premis dengan kesimpulan”. Sesat-nalar seperti ini disebut fallacies of relevance. Kesalahan muncul akibat fitur emotif bahasa yang digunakan untuk mendukung kebenaran klaim yang tidak memiliki alasan objektif.

Mari kita lihat alasan Prabowo kenapa Indonesia tinggal nama pada 2030: (1) Bahwa 80 persen tanah seluruh negara dikuasai 1 persen rakyat kita, nggak apa-apa. (2) Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1 persen, nggak apa-apa. (3) Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa.

Walaupun sepertinya relevan, tapi sejatinya logika atau alasan tersebut bersifat desesif (menipu, mengecoh, memperdaya). Orang awam sekalipun akan menertawakan nalar (alasan) ini jika dipakai untuk alasan Indonesia bubar. Kok sederhana banget penyebab Indonesia bubar.

Dari sisi etika komunikasi, bahwa Prabowo seperti bergembira membaca “kajian-kajian negara lain” –-Prabowo tidak menjelaskan kajian negara mana dan kapan– bahwa Indonesia sudah tidak akan ada lagi tahun 2030. Bergembira karena mendapatkan amunisi untuk mendeskriditkan lawan politiknya.

Di sinilah tak etisnya. Omongan seorang pemimpin ibarat doa untuk bangsa ini. Prabowo bukan aktivis atau demonstran pemula yang tak berpikir panjang dalam melontarkan bahasa apa saja dalam memojokkan pemerintah. Prabowo seorang pemimpin partai politik, dan pernah bersaing dalam dua kali Pilpres, serta berkeinginan untuk maju lagi di Pilpres 2019. Selayaknya dia memilih retorika yang kondusif untuk negara ini, bukan malah sesuatu yang bersifat “menyumpahi Indonesia”. Siapapun tak akan rela Indonesia bubar, termasuk kelompok 1% yang disebut Prabowo tersebut.

Menurut Karl Wallace (1955), salah satu etika komunikasi yang seharusnya diperhatikan oleh setiap pemimpin adalah mengutamakan motivasi publik daripada motivasi pribadi. Tentu tak bisa dipungkiri bahwa motivasi pribadi sangat kental dalam setiap retorika politik politisi. Itu lumrah karena perjuangan politik tidak bisa dipisahkan dari motif-motif yang bersifat pribadi. Tapi adalah tidak etis apabila motivasi pribadi tersebut mengorbankan motivasi publik.

Retorika Prabowo berisi ujaran menakut-nakuti masyarakat Indonesia untuk kepentingan politiknya. Makna implisit dalam pidato Prabowo tersebut adalah “Awas lho, Indonesia ini akan bubar kalau kalian tidak pilih saya.” Ini memberikan efek buruk bagi psikologis berbangsa. Alih-alih membangkitkan motivasi rakyat, pidato tersebut melahirkan pesimisme berbangsa, memunculkan antipati kepada kelompok satu persen masyarakat yang dia sebut, serta berpotensi memperbesar ketidakpercayaan publik kepada pemerintah.

Belajar dari Obama

Barack Husein Obama, Presiden Amerika dua periode, bisa dijadikan contoh oleh Prabowo kalau menginginkan kursi Presiden. Keberhasilan Obama menjadi Presiden negara adidaya adalah sesuatu yang sepertinya mustahil dalam dinamika politik Amerika yang kental dengan sejarah rasisme dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam. Tapi Obama mengubah yang mustahil itu menjadi kenyataan. Ia bahkan terpilih dua kali menjadi Presiden Amerika.

Apa pesona Obama sehingga dia bisa meruntuhkan dinding rasisme yang begitu tebal dalam sejarah masyarakat Amerika? Ungkapan Shell Leane (2008) dalam bukunya Say It Like Obama and Win! bisa kita jadikan salah satu jawaban –tentu ini bukan satu-satunya jawaban. “Keberhasilan politik Obama menggarisbawahi fakta yang sudah mapan: para pemimpin di semua bidang mendapatkan keuntungan saat mereka membangun kemampuan komunikasi yang luar biasa: kemampuan menyampaikan visi, menginspirasi keyakinan, mempersuasi, dan memotivasi orang lain adalah kunci efektif menuju kepemimpinan puncak.”

Pertama, kemampuan menyampaikan visi. Obama terkenal dengan kemampuan memaparkan visi secara tepat dan meyakinkan. Ahli dalam menggunakan kata-kata deskriptif dan multi-dimensional, kaya dengan makna wajar. Cara dia mengkristalkan poin-poin utama membuat pidatonya tertanam kuat dalam pikiran audiens sehingga diingat lama setelah pidato usai.

Hal seperti ini bisa dilakukan ketika rasionalitas berkuasa atas emosi, bukan sebaliknya. Kekuatan argumen dan alasan-alasan logis benar-benar dipersiapkan sehingga tidak terjadi sesat-nalar. Ada keinginan memberikan makna wajar dalam pilihan kata tanpa bertendensi menyudutkan dan memojokkan lawan politik.

Kedua, menginspirasi keyakinan. Keyakinan akan mimpi-mimpi yang dimiliki oleh segenap warga Amerika yang juga beragam seperti Indonesia, diingatkan, dikuatkan, dan diinspirasi bahwa itu sangat mungkin dicapai, bukan mimpi kosong ketika semua berdiri atas nama negara. Obama memberikan contoh-contoh, baik yang berkenaan dengan pengalaman dirinya maupun pengalaman warga Amerika lainnya, di mana sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.

Ketiga, mempersuasi, membawa orang lain ke dalam cara berpikirnya yang positif. Persuasi adalah proses komunikasi dimana pengirim pesan bertujuan mempengaruhi kepercayaan, sikap dan perilaku penerima pesan, ujar Jowett & O’Donnell (1992). Jadi ada upaya sadar. Dan, niatnya harus baik. Ini sangat esensial dalam politik. Meski kita tahu bahwa banyak praktik persuasi dari politisi yang bersifat desesif. Tapi, Obama memperlihatkan persuasi yang positif dalam setiap pidato-pidatonya.

Keempat, mengilhami dan memotivasi orang lain. Ini superpenting. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengilhami dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya dan bangsanya, serta memiliki semangat juang tinggi (fighting spirit) untuk mencapai itu. Bukan sebaliknya, memberikan efek pesimisme.

Tujuan dari setiap tindakan politisi, baik yang dia sampaikan dalam setiap retorika maupun perbuatan, adalah memenangkan hati dan pikiran rakyat. Obama, dengan kemampuan komunikasi politiknya tak saja mampu menyakinkan orang (unsur kognitif) tapi juga mampu menguasai hatinya (unsur afektif). Semua bermula dari niat baik, dipraktikkan dengan cara-cara baik pula.

Good man speaking well, ujar Marcus Fabius Quintilianus, ahli retorika Roma yang hidup tahun 35–100 Masehi.

Kita tak pernah pupus harapan akan lahirnya niat baik dari semua politisi di negara ini untuk beretorika secara baik, menyampaikan visi dan program secara meyakinkan (bukan menebar kebohongan), mengingatkan kembali keyakinan-keyakinan bersama (bukan memecah belah keragaman), mempersuasi publik dengan logika-logika mencerahkan (bukan melakukan pembodohan), serta menyampaikan sesuatu yang bersifat menginspirasi dan memotivasi (bukan melahirkan pesimisme). Semoga.

Afriadi Rosdi Ketua Pusat Studi Literasi Media, Mahasiswa Pascasarjana STIKOM-InterStudi, Jakarta

*Artikel pernah dipublikasi di Detik, 23 Maret 2018

Tinggalkan Komentar