Blog entries   |  Kekeliruan “Kitab Suci itu Fiksi”

Kekeliruan “Kitab Suci itu Fiksi”

Rocky Gerung

Rocky Gerung

Tulisan ini sekedar ingin berdiskusi, menanggapi pemikiran Rocky Gerung (RG) yang memantik perdebatan publik. Didorong oleh rasa keingin-tahuan “seperti apa argumen yang dibangun RG sehingga berani menyebut Kitab suci itu Fiksi”, saya pun menyimak dengan seksama argumen RG lewat video Youtube yang berjudul “Rocky Gerung: Kitab Suci itu Fiksi”.
Dari video yang berdurasi 11:19 menit itu saya sampai pada kesimpulan bahwa Rocky Gerung telah GEGABAH membuat kesimpulan (Kitab Suci itu fiksi) sehingga dia terjerumus ke dalam kekeliruan. GEGABAH, karena kesimpulan itu dibuat RG tanpa didukung oleh pengetahuan memadai tentang keragaman kitab suci, dan isi kitab suci. Yang dimengerti RG dari Kitab Suci hanya “fungsinya”, “telosnya”, dan “aspek eskatologinya”, yang kebetulan sama dengan Fiksi secara umum.
Kita bisa kelompokkan pernyataan RG ke dalam dua klasifikasi, yaitu definisi Fiksi dan fungsi Fiksi. Pertama, aspek definisi. Fiksi yang dimaksud oleh RG adalah sesuatu yang bersifat imajiner, imajinatif, belum ada, dia bisa ada di masa depan bisa juga tidak ada. Lawannya realitas, sesuatu yang nyata-nyata ada. Contoh yang dia berikan adalah cerita Babat Tanah Jawa dan Mahabarata. Bagi yang kurang paham tentang contoh tersebut, bisa bayangkan film Star Wars dengan kecanggihan teknologi di dalamnya. Itu fiksi, tak benar-benar ada selain di dalam cerita/film.
Kedua, aspek fungsi. Ada dua fungsi utama Fiksi yang diungkap RG: Satu, mengaktifkan imajinasi. “Ia adalah sebuah energi untuk mengaktifkan sebuah imajinasi…menuntun kita untuk berpikir imajinatif,” ujar RG; Dua, menuntun ke Telos. Menurut RG, fiksi adalah energi yang menuntun orang untuk tiba di Telos, yang di Depan. Apa itu Telos? Telos adalah tujuan esensial, tujuan internal utama dari sesuatu. Misal, Telos sebuah pohon mangga adalah menghasilkan buah mangga. Telos dari Kitab Suci adalah janji eskatologis, Surga atau Neraka. “Fiksi (adalah) energi untuk tiba ke Telos, Yang Di Depan. Kita ingin tiba di Telos. Ujung dari Kitab suci itu adalah harapan, janji. Dan itu sifatnya Fiksi,” ujar RG.
Dengan definisi dan fungsi Fiksi seperti itulah RG berani menyebut Kitab Suci itu Fiksi. “Kalau fiksi itu sebuah enerji yang mengaktifkan imajinasi (aspek fungsi—penulis), kitab suci itu adalah fiksi, karena belum selesai, belum tiba (aspek definisi – pen ),” katanya.
Seperti saya bilang lebih awal, kesimpulan yang dibuat RG Gegebah sehingga menjerumuskannya ke dalam kekeliruan. Dimana kekeliruan kesimpulan RG?
Saya hanya paham Kitab Suci al-Quran, tidak paham dengan kitab suci agama selain Islam. Karena itu saya membuktikan kekeliruan RG tersebut berdasarkan telaahan terhadap Kitab Suci al-Quran. Al-Quran, adalah Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk dan tuntutan hidup bagi umat manusia agar selamat menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat.
Tuntunan Tuhan di dalam Kitab Suci itu dinarasikan ke dalam beragam aspek. Mari kita kupas beberapa diantaranya sambil membandingkannya dengan pernyataan RG, apakah ia fiksi atau bukan.
Aspek Pertama berupa “dogma agama”, yaitu segala hal yang berkaitan dengan perintah/kewajiban (seperti sholat, puasa, zakat, haji, berbuat baik kepada orang tua, dll); larangan (menjauhi zina, khamar, mengurangi timbangan, menyekutukan Allah, dll); dan anjuran/sunnah (shodaqah, membantu sesame, dll).
Apakah dogma agama bisa dibilang Fiksi? Tentu tidak. Perintah Allah untuk melaksanakan Sholat misalnya, itu bukan Fiksi. Perintah itu telah ada sejak dia diturunkan kepada Nabi Muhammad dan harus dilaksanakan oleh umat Islam. Kalau tidak dilaksanakan maka masuk golongan umat durhaka. Begitu juga dengan perintah-perintah lainnya.
Aspek Kedua, eskatologis, yaitu surga dan neraka. Umat Islam akan beroleh Surga ketika patuh melaksanakan kewajiban dan anjuran, serta meninggalkan larangan; dan akan dilemparkan ke dalam neraka apabila sebaliknya. Aspek eskatologis inilah yang dimaksud Telos dalam beragama oleh RG. “Ujung dari Kitab suci itu adalah harapan, janji. Dan itu sifatnya Fiksi,” ujar RG.
Saya mencoba memahami kenapa Janji Kitab Suci, atau janji agama secara umum itu disebut sebagai Fiksi oleh RG. Apakah Janji Tuhan yang dia percayai sebagai Fiksi: bisa terjadi bisa tidak? Kalau itu, jelas sangat keliru karena janji Tuhan sifatnya pasti.
Atau, kemungkinan kedua: apakah RG berpandangan bahwa Surga atau Neraka itu belum ada pada saat ini sehingga layak disebut Fiksi?
Dalam Islam, surga dan neraka bukan Fiksi. Surga Neraka itu Telah Ada, bukan Belum Ada. Karena ia telah ada, maka sesuatu yang dijanjikan agama itu: surga atau neraka, tidak bisa disebut Fiksi.
Darimana kita tahu bahwa surga dan neraka itu telah ada? Tengoklah kisah penciptaan Nabi Adam. Manusia pertama itu diciptakan oleh Allah di dalam surga. Sebelumnya sudah ada penghuni Surga, yaitu Malaikat dan Iblis. Ketika Allah menciptakan Adam, Iblis dan Malaikat disuruh sujud kepadanya. Malaikat patuh mengikuti perintah Tuhan, Iblis menolak. Lalu iblis pun dibuang dari Surga.
Kisah Surga dan neraka juga bisa kita temukan dalam kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Nabi diperlihatkan kehidupan surga (ketika dia menoleh ke kanan) dan kehidupan neraka (ketika dia menoleh ke kiri) pada saat perjalanan menuju Sidratul Muntaha.
Dari kisah Nabi Adam dan Nabi Muhammad tersebut kita menjadi tahu bahwa Surga dan Neraka bukan sesuatu yang belum ada, bukan lagi Fiksi, tetapi sesuatu yang telah ada. Hanya saja karena keterbatasan manusia, maka tak seorangpun yang bisa mengobjektivasi (membuktikan) realitas surga neraka itu. Manusia biasa ini hanya bisa membuktikannya setelah kematiannya tiba.
Dengan penggambaran seperti itu, kalau kita sebut Surga dan Neraka sebagai belum ada, maka sama artinya menyebut al-Quran berbohong, atau Nabi berbohong.
Untuk mempertegas pemahaman, mari kita contohkan kisah seseorang yang pernah pergi ke Mesir yang bercerita ke kawannya tentang indahnya Mesir. Dia bercerita tentang Piramid, laut Merah, dan sebagainya. Sebutlah dia bercerita pada abad ke-16 dulu, sekedar misal, dimana belum ada internet, kapal terbang, dan sebagainya. Sehingga sang pendengar cerita hanya bisa menganguk-angguk tanpa bisa membuktikan apakah Mesir itu benar-benar sudah ada atau masih dalam imajinasi kawannya yang bercerita. Nah, apakah karena keterbatasan pengetahuan “sang pendengar cerita” lalu kisah tersebut bisa disimpulkannya sebagai Fiksi?
Surga dan neraka itu dijanjikan Tuhan akan dirasakan oleh manusia setelah dia meninggal. Betapa nikmatnya surga dan pedihnya neraka digambarkan Tuhan di dalam kitab suci sehingga menuntun manusia untuk bisa mengimajinasikannya. Penggambaran itu tidak bisa disebut Fiksi karena memang sudah terjadi pada manusia-manusia yang sudah meninggal.
Aspek Ketiga dalam al-Quran adalah cerita atau kisah Kenabian, orang-orang sholeh dan umat durhaka. Apakah kisah tersebut bisa disebut Fiksi sebagaimana halnya dengan cerita Mahabarata atau Babat Tanah Jawa?
Kisah kenabian (mulai dari kisah Nabi Adam hingga Isa), kisah orang sholeh (seperti Maryam, Asiyah [ istri Firaun]), dan cerita raja lalim seperti Firaun, semua cerita/kisah itu bukan Fiksi, tapi sebuah realitas, ada jejaknya dalam sejarah. Kalau kisah di dalam al-Quran itu dikategorikan sebagai Fiksi, maka sama artinya menyebut Tuhan sebagai berbohong.
Meskipun bukan Fiksi, cerita-cerita kenabian tersebut bisa membangkitkan energi imajinatif dan menuntun kita untuk berpikir kreatif. Seperti juga kisah orang-orang sukses dalam buku Biografi, non-Fiksi, yang bukan fiksi, juga bisa menuntun orang untuk berpikir kreatif, membangkitkan energi imajinatif. Jadi baik fiksi maupun non-fiksi, dari segi fungsi bisa sama.
Bagaimana dengan kisah seperti Kiamat dimana nanti Tuhan akan mengakhiri kisah kehidupan manusia, turunan Nabi Adam, di muka bumi ini: semua manusia dimatikan, gunung-gunung diledakkan, bumi jungkir balik. Apakah ini masuk kategori Fiksi karena belum terjadi? Allah telah membuktikan bahwa Kiamat bukan sesuatu yang mustahil bagi Allah. Dia telah memberikan contoh-contoh melalui Kiamat Shughra, skala yang lebih kecil, seperti musibah tsunami, bencana angin puting beliung, bencana Gunung Api meletus dan sebagainya.
****
Dengan ulasan terhadap tiga aspek tersebut, maka pada dasarnya kekeliruan Rocky Gerung terletak pada: pertama, pengetahuannya yang sedikit tentang Kitab Suci dan isi Kitab Suci, mungkin. Kedua, men-generalisasi sesuatu yang bersifat “membangkitkan energi imajinatif dan menuntun kita untuk berpikir kreatif” sebagai Fiksi. Kekeliruan ketiga, generalisasi terhadap Telos Beragama, janji eskatologis. Dia lupa membedakan mana yang Fiksi dan mana yang Realitas terkait hal tersebut. Wallahualam bis shawab.
*Afriadi Rosdi, Sarjana Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Direktur RMBooks (penerbit buku)

Tinggalkan Komentar