Blog entries   |  Jebakan Maut IMF dan World Bank

Jebakan Maut IMF dan World Bank

Afriadi Rosdi bersama dosen Dr. Megandaru dan kawan sekelas PascaSarjana  STIKOM-InterStudi, Jakarta

Afriadi Rosdi bersama dosen Dr. Megandaru dan kawan sekelas PascaSarjana STIKOM-InterStudi, Jakarta

Review Film ‘The New Rulers Of The World”

Menonton film dokumenter “The New Rulers of The World” karya John Pilger ini mengingatkan saya pada dua wacana besar yang pernah saya gandrungi ketika mahasiswa S-1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dulu. Pertama, wacana tentang teori ketergantungan (dependency theory). Asumsi dasar dari teori adalah pembangunan di Dunia Ketiga (negara terbelakang/berkembang/miskin) lewat pinjaman utang dari IMF dan World Bank –yang merupakan perpanjangan tangan dari Dunia Pertama (Negara Maju)– telah menciptakan ketergantungan dan kemiskinan. Seperti menurut Theotonia Dos Santos (teoritikus dependency theory), Dunia Pertama menciptakan ketergantungan teknologis-Industrial, ketergantungan finansial-Industrial, dan ketergantungan kolonial kepada Dunia Ketiga .  Akhirnya terjadi ketimpangan dan eksploitatif dalam hubungan tersebut. Negara Maju mendikte Negara Berkembang/Miskin sesuai kepentingan ekonomi dan politiknya. Efeknya, Negara Berkembang tetap dengan ketebelakangan dan kemiskinannya, sementara Negara Maju makin sejahtera karena berhasil menghisap kekayaan alam dan manusia (upah murah) yang dimiliki oleh Dunia Ketiga.

Kedua, wacana korban pembangunan dunia ketiga. Peter L. Berger dalam bukunya berjudul “Piramida Korban Manusia” (1982, LP3ES) menjelaskan bahwa modernisme yang dijalankan baik oleh sosialisme maupun kapitalisme telah meminta korban-korban manusia untuk menyangga pembangunan. Manusia dan instutusi sosial kemasyarakatan dikorbankan untuk kepentingan “ideologi” dan politik. Kapitalisme dengan ideologi “pertumbuhan ekonominya” dan sosialisme dengan ideologi “revolusinya”, semua menuntut “human cost” (dehumanisasi, upah murah, dsb) dan “social cost” (genosida budaya kuno, cagar alam, dekulturisasi, dsb).

Kedua wacana tersebut merupakan kritikan terhadap modernisasi. Kalau yang pertama lebih banyak dipengaruhi oleh aliran pemikiran neo-marxis (kiri) yang secara substantif tidak mempercayai kapitalisme modernisme sehingga selalu mampu mengeksploitasi sisi negatif dari sistem ini; sementara yang kedua merupakan kritikan internal dari pemikir beraliran modernitas (kanan) yang menginginkan perbaikan sistem.

Film ini menjadi penggambaran sempurna terhadap dua wacana tersebut: Pilger menyorot dan menghadirkan fakta-fakta nestapa yang dihasilkan oleh resep maut Penguasa Baru Dunia, yaitu International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia). Di bawah kekuasaan Penguasa Dunia Baru ini, negara Dunia Ketiga didikte demi mantra pembangunan dan kemajuan, sementara hasilnya jutaan orang mengalami dehumanisasi, eksploitasi, ketertindasan, dan kesengsaraan hidup. Dalam film ini, Indonesia dijadikannya sebagai studi kasus. Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam seperti minyak, emas, tembaga, kayu dan keterampilan rakyatnya. Seharusnya negara ini tidak miskin, tapi faktanya sangat miskin.

 

Content Film

Sejatinya, film John Pilger ini merupakan kritikan terhadap globalisasi ekonomi yang menghasilkan kesenjangan ekonomi yang begitu besar yang belum pernah ditemui pada era-era sebelumnya.

Ia memulai kisah film ini dengan menghadirkan fakta antara kesejahteraan dan kemiskinan yang sangat bertolak belakang. Pertama dia menyorot pernikahan mewah kaum bangsawan dan dibandingkannya dengan upah seorang pelayan tamu pada resepsi tersebut. Biaya pernikahan mewah itu jika dikalikan dengan gaji yang diterima pelayan tamu, maka pelayan tamu tersebut membutuhkan waktu 400 tahun untuk bisa menyelenggarakan resepsi pernikahan yang sama. Jika dirata-ratakan umur penduduk Indonesia 70 tahun, berarti empat generasi dari karyawan tersebut tidak mampu menyelenggarakan resepsi serupa.

Kedua, penderitaan para buruh perusahaan raksasa multinasional seperti Nike, Adidas, Reebok, GAP, Old Navy. Pilger menyorot perkampungan kumuh para buruh yang memproduksi barang-barang mewah tersebut. Mereka tinggal di rumah-rumah reot, tiap hari berhadapan dengan saluran air yang tak lancar yang mengancam kesehatan, rawan penyakit. Gaji mereka yang rendah menyebabkan mereka tak mampu memberikan perlindungan kesehatan dan pendidikan yang layak untuk dirinya dan anak-anaknya.

Di sisi lain, perusahaan raksasa tersebut mengeksploitasi tenaga buruh, memaksa mereka lembur hingga bekerja sampai 16 jam sehari demi mengejar target produksi dengan upah yang sangat murah. Para pekerja wajib mentaati semua kemauan perusahaan, tidak boleh protes, atau menceritakan keburukan perusahaan kepada pihak luar. Sanksinya adalah pecat, yang berarti mereka menjadi pengangguran, sebuah nasib yang sangat ditakuti oleh karyawan dibanding eksploitasi yang mereka terima. Karyawan bekerja tanpa mengerti hak yang harus mereka terima. Mereka tanpa pernah diberitahu peraturan perusahaan dan kode etiknya. Diungkapkan oleh Dita Sari (aktivis organisasi Buruh), salah satu narasumber yang diwawancara Pilger, kode etik pekerja tidak pernah berlaku di Indonesia. Pekerja tidak akan pernah bisa menolak untuk bekerja walaupun dengan upah yang rendah.

Buruh tersebut pada dasarnya tidak tahu berapa harga barang yang mereka produksi dan betapa besar keuntungan yang mereka hasilkan untuk para pemegang modal. Dan Pilger menyentak kesadaran buruh terhadap fakta tersebut. Pilger membeli celana di sebuah outlet GAP di London dan memperlihatkannya kepada buruh yang memproduksi barang tersebut. Dan, si buruh hanya bisa berkata, “Kami kaget, dalam satu celana ini kami bisa menguntungkan pengusaha begitu banyak, apalagi ribuan celana. Dalam satu hari minimal kami harus menghasilkan tiga ribu celana.”  Inilah yang disebut oleh Marx sebagai nilai-lebih (surplus value).

Celana GAP yang diperlihatkan Pilger kepada buruh tersebut dia beli di London dengan harga 112 ribu dan buruh hanya mendapatkan 500 rupiah saja dari celana tersebut. Begitu juga dengan sepatu yang dihargai 1,4 juta tetapi buruh yang memproduksi hanya mendapat 5.000 rupiah. “Bahkan untuk membeli tali sepatunya saja tidak cukup,” ujar Pilger.

Begitulah cara Pilger mengungkap jurang kemiskinan dan kekayaan yang begitu lebar yang dihasilkan oleh tatanan baru ini. Dengan membuat film secara rahasia di salah satu sweatshop terbesar di ibukota, Jakarta, menyorot lebih dari ratusan foto sebagian besar wanita dan anak-anak di kamp, ??dengan saluran pembuangan terbuka dan air yang tidak aman, Pilger membongkar fakta ketertindasan dan eksploitasi buruh, sebab dari lahirnya jurang pemisah antara kaya dan miskin. Diungkap Pilger, tidak pernah ditemukan pada era sebelumnya jurang yang begitu besar antara si kaya dengan si miskin.

Barat, ujar Pilger, telah meningkatkan cengkramannya pada negara-negara miskin dengan menggunakan kekuatan lembaga-lembaga keuangan yang kuat untuk mengendalikan ekonomi mereka. “Sekelompok kecil orang kuat sekarang lebih kaya daripada sebagian besar penduduk Afrika,” katanya, “hanya 200 perusahaan raksasa mendominasi seperempat kegiatan ekonomi dunia. General Motors sekarang lebih besar dari Denmark. Ford lebih besar dari Afrika Selatan. Orang yang sangat kaya seperti Bill Gates, memiliki kekayaan yang lebih besar dari semua Afrika. Golfer Tiger Woods dibayar untuk mempromosikan Nike melebihi bayaran yang diterima oleh seluruh karyawan yang membuat produk-produk perusahaan di Indonesia. ”

Bagaimana semua ini bisa terjadi di Indonesia? Bagi Pilger, ketidakadilan ekonomi dan kemiskinan di Indonesia ini bertumpu dari satu penjelasan inti: imperialisme ekonomi dari Penguasa Baru Dunia (The Ruler of The New World). Siapa Penguasa Baru dunia itu? Mereka adalah Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF), dua badan yang merupakan agen dari negara-negara terkaya di dunia, terutama Amerika.

“Ratusan tahun lamanya, Indonesia itu dihisap oleh negara-negara Barat. Bukan hanya Indonesia, tetapi semua negara kulit berwarna. Sehingga Barat itu menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Sekarang (Indonesia) didikte oleh IMF dan Bank Dunia. Negeri yang begini kayanya, menjadi negara pengemis sekarang. Karena tidak adanya karakter pada elit,” ujar Pramoedya Ananta Toer ketika diwawancara Pilger.

Di era Soekarno, IMF dan World Bank tidak bisa masuk ke Indonesia. “Go to hell your Aid,” ujar Soekarno. Soekarno kemudian tumbang lewat perebutan kekuasaan diam-diam yang dilakukan oleh Soeharto dengan dukungan Amerika Serikat dan Inggris.

“Perubahan rezim ini adalah salah satu pembunuhan massal paling berdarah dalam sejarah pasca Perang Dunia II, dengan lebih dari satu juta orang diperkirakan tewas dalam prosesnya. Suharto mengambil langkah-langkah brutal untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengumpulkan ribuan dan ribuan pegawai negeri, guru sekolah dan pada dasarnya siapa pun dengan kecenderungan komunis dan membunuh mereka,” ungkap Pilger.

Pilger menampilkan tragedi kemanusiaan terhadap masyarakat yang dituduh terlibat PKI secara apik. Tentara mendatangi rumah-rumah penduduk, menggelandang penghuninya ke truk-truk tentara, dikumpulkan secara massal di tempat-tempat tertentu, kemudian hilang lenyap dari muka bumi.

“Dia melakukan ini dengan dukungan dari CIA, yang memberikan daftar 5000 orang yang mereka inginkan mati, dan duta besar Inggris pada saat itu menyarankan penembakan kecil diperlukan untuk memudahkan transisi, sementara kapal perang Inggris memainkan peran pendukung dalam melindungi Indonesia,” ujar Pilger. Pers Amerika melaporkan peristiwa ini bukan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, tetapi menyebutnya sebagai ‘berita terbaik Barat selama bertahun-tahun’.

Dalam satu tahu setelah Soeharto berkuasa, ekonomi Indonesia secara efektif dirancang ulang di Amerika, memberikan akses Barat ke kekayaan mineral, pasar dan tenaga kerja murah – apa yang Presiden Nixon sebut sebagai hadiah terbesar di Asia.

Pada tahun 1967 – sebuah konferensi di Swiss merencanakan pengambilalihan perusahaan di Indonesia, dengan sebagian besar perusahaan internasional besar dunia diwakili, seperti ICI, General Motors, dan American Express. Ini adalah awal dari demam emas yang kemudian dikenal sebagai globalisasi, dan hampir tidak ada yang menyebut jutaan orang Indonesia yang mati.

Begitulah cara kerja IMF dan World Bank. Mereka menawarkan pinjaman kepada negara-negara miskin, dengan syarat harus melakukan privatisasi ekonomi sehingga memungkinkan perusahaan-perusahaan Barat bebas mendapatkan akses ke Sumber Daya Alam dan pasar mereka.

Bank Dunia mengatakan tujuannya adalah untuk membantu orang miskin. Ini adalah sistem yang cerdas, semacam “sosialisme untuk orang kaya” dan “kapitalisme untuk orang miskin” – orang kaya semakin kaya dengan utang, tenaga kerja murah dan membayar pajak sesedikit mungkin, sementara orang miskin semakin miskin karena pekerjaan dan layanan publik mereka terputus hanya membayar bunga atas utang kepada Bank Dunia.

Pada tahun 1998 terjadi resesi ekonomi global. Modal jangka pendek tiba-tiba ditarik keluar dari Asia, meruntuhkan ekonomi mukjizat Indonesia dalam semalam. Dengan ekonomi runtuh, dan Indonesia di ambang revolusi, Soeharto terpaksa mengundurkan diri, karena telah mencuri pinjaman utang sekitar $ 15 miliar. Selama pemerintahannya lebih dari 30 tahun, Soeharto telah menyerahkan utilitas publik kepada keluarga dan kroni-kroninya.

“Globalisasi menciptakan utang, menciptakan kesengsaraan, menciptakan krisis, dan menciptakan privatisasi, yang mendorong naiknya harga yang harus dibayar orang untuk barang-barang pokok. Akibatnya uang yang dicuri oleh rezim Suharto dibayar kembali oleh orang-orang yang tidak pernah mendapat manfaat dari uang itu,” ujar Dita Sari.

Dengan runtuhnya rezim Soeharto, apakah IMF dan Bank Dunia bersedia menghapuskan utang Indonesia? John Pliger bertanya kepada Stanley Fischer, pejabat IMF, apakah pembatalan utang menjadi prioritas jika kita ingin mengurangi kemiskinan, mengingat bahwa beberapa negara membelanjakan setengah PDB mereka untuk membayar utang.

Fischer berpendapat bahwa IMF tidak bisa membatalkan hutang mereka. Mereka harus membayar kembali semua utang. Dia melihat utang sebagai bagian ‘normal’ dari ekspansi perusahaan dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

“Untuk menjaga pembayaran utang, pemerintah, seperti yang direkomendasikan oleh IMF, memotong subsidi untuk listrik, air dan pendidikan, yang berarti bahwa para pekerja harus membayar lebih banyak anak-anak mereka melalui sekolah. Sekarang orang-orang makan dua kali sehari, bukan lagi tiga kali sehari.” ujar Dita Sari.

“Sebagian besar pandangan global saya telah bertahun-tahun melihat bagaimana imperialisme bekerja dan bagaimana dunia terbagi antara orang kaya, yang semakin kaya, dan miskin, yang semakin miskin, dan orang kaya semakin kaya di belakang orang miskin. pembagian tidak berubah selama sekitar 500 tahun, tetapi ada cara-cara baru yang menipu untuk menopangnya dan memastikan bahwa sebagian besar sumber daya dunia terkonsentrasi di tangan sesedikit mungkin,” ujar Pilger

Pada saat ini, ujar Pilger, ada gerakan di seluruh dunia yang memahami penipuan ini dan mendapatkan kekuatan, terutama di antara kaum muda, banyak di antaranya berpendidikan jauh lebih baik dan memahami  sifat bunglon kapitalisme dibanding mereka yang hidup di tahun 1960.

 

Kampenya Melawan Ketidakadilan

Film John Pilger ini bisa dikategorikan sebagai kampanye melawan ketidakadilan yang disebabkan oleh Globalisasi yang dimotori oleh IMF dan World Bank, yang tidak lain tidak bukan merupakan tunggangan kepentingan dari negara-negara maju terutama Amerika Serikat. Pilger ingin membuka kesadaran publik akan kebobrokan dan racun-racun mematikan di balik mantra pembangunan dan modernisasi negara ketiga yang dijanjikan oleh Penguasa Baru Dunia itu.

Analisis yang bersifat kampanye dari Pilger ini bukan sebuah kebohongan. Kritikan terhadap kebobrokan sistem IMF dan World Bank telah dilakukan oleh banyak pihak. Bahkan kebobrokan tersebut juga dibongkar oleh mereka yang dulu bagian dari “Penguasa Baru Dunia” ini, salah satunya adalah John Perkins lewat bukunya “Confessions of an Economy Hitman” (2005, edisi Indonesia). Kebetulan studi kasusnya sama, Indonesia.

John Perkins, adalah seorang pelobi dan perancang ekonomi yang bekerja untuk kepentingan dengan Bank Dunia, IMF dan Amerika Serikat. Dia menyebut dirinya nya sebagai Economy Hit Man (EHM – Bandit Ekonomi), yaitu “sekumpulan laki-laki dan perempuan elite yang memanfaatkan organisasi keuangan Internasional untuk menimbulkan kondisi yang menjadikan bangsa-bangsa lain tunduk pada corporatocracy yang menjalankan korporasi kami yang paling besar, pemerintah kami, dan perbankan kami.” Tugas pada EHM ini adalah “mendorong para pemimpin dunia agar menjadi bagian dari jaringan luas yang mengutamakan kepentingan Amerika Serikat. Pada akhirnya, para pemimpin itu akan terjerat dalam belitan utang yang akan memastikan loyalitas mereka. Kita dapat memanfaatkan mereka kapan pun kita mau – untuk memenuhi kebutuhan politik, ekonomi, atau militer kita.”

Orang seperti John Perkins bertugas melakukan tawar-menawar sistem dengan negara yang menerima bantuan dari lembaga keuangan dunia seperti World Bank. Tawar menawar yang dimaksud lebih bermakna pendiktean sistem yang diinginkan oleh Negara Maju. Jika para EHM ini gagal melaksanakan tugasnya, maka suatu bentuk Hit Man yang lebih keji, serigala, maju melangkah ke depan melaksanakan tugasnya, seperti merekayasa pembunuhan terhadap kepala negara “yang menolak menerima uluran tangan” seperti yang terjadi terhadap Jaime Roldos (Presiden Ekuador) dan Omar Torrijos (Presiden Panama), yang keduanya tewas dalam kecelakaan, atau mendukung kudeta terselubung seperti yang terjadi terhadap Soekarno. Jika Serigala ini juga gagal, maka tugas selanjutnya diberikan kepada militer, agresi, seperti yang dialami Irak.

Jadi, agenda IMF dan World Bank untuk memberikan utang kepada Negara-Negara Berkembang adalah sebuah uluran tangan yang wajib diterima dengan konsekuensi eksploitasi SDA dan manusianya sekaligus, serta ketergantungan selama-lamanya kepada mereka. Sekali terjebak, maka tak mudah untuk melepaskan diri. Inilah jebakan Betmen. Tak ada cara untuk bebas karena belitan utang beserta bunganya sudah begitu besar, selamanya berada dalam jajahan mereka, Imperialisme ekonomi, penjajahan gaya baru. Dan ketika sebuah negara tidak bisa membayar hutang ketika sudah jatuh tempo, maka “mereka menuntut pembayaran secara penuh”. Inilah yang terjadi pada Ekuador dengan menjual hutan hujannya kepada perusahaan minyak. Amazon, ladang hutan kebanggaan Ekuador, diyakini memiliki kandungan minyak yang dapat menyaingi minyak di Timur Tengah.

Indonesia sekarang sudah masuk dalam cengkaraman utang yang begitu besar. Berdasarkan data terbaru yang dilansir pemerintah, jumlah utang luar negeri Indonesia sekarang adalah 4.800 Triliun (per Maret 2018). Nominal utang luar negeri tersebut hampir 2.5 kali lipat dibandingkan dengan rencana pendapatan negara tahun 2018 yang sebesar 1.878,4 Triliun. Jangan sampai Indonesia menjadi negara bangkrut seperti dialami Portugal pada tahun 2011 karena sebab krisis utang.

Menumbuhkan kesadaran akan dampak jebakan maut utang luar negeri yang disodorkan IMF dan World Bank sudah saatnya semakin digalakkan, seperti dilakukan oleh John Pilger, juga John Perkins.

Kita tidak memusuhi modernitas dan pembangunan, tapi kita harus menolak segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan imperialisme. ***

*Afriadi Rosdi, Mahasiswa PascaSarjana Komunikasi Politik STIKOM-InterStudi, Jakarta.

Tulisan ini adalah makalah kuliah.

 

Tinggalkan Komentar