Blog entries   |  Jokowi dan PSSI, Berani Mengalahkan Ketakutan

Jokowi dan PSSI, Berani Mengalahkan Ketakutan

Oleh: Afriadi Rosdi*

Anda harus berani mengalahkan ketakutan diri sendiri dan orang yang anda pimpin jika menginginkan sebuah prestasi. Karena, masa depan ditentukan oleh apa yang anda kerjakan hari ini.

Kalimat tersebut layak disematkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam hubungannya dengan PSSI.

Tahun 2015 lalu, Jokowi mengambil sebuah keputusan berani. Dan keputusan itu berdiri di atas ketakutan banyak orang. Tapi sebagai pemimpin, Jokowi berani mengalahkan ketakutan itu. Bukan untuk dirinya, tapi untuk prestasi PSSI dan harga diri bangsa.

Keputusan Jokowi itu adalah mengintervensi PSSI, campur tangan terhadap pengelolaan bola di Indonesia. Lewat Menpora, pemerintah membekukan kepengurusan PSSI hasil Kongres Luar Biasa (KLB) tanggal 18 April 2015. Ketua Umum PSSI terpilih pada saat itu adalah La Nyalla Mattalitti.

Intervensi pemerintah terhadap PSSI tersebut bertentangan dengan statuta FIFA pasal 17 ayat 1. “Setiap anggota FIFA harus menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa ada pengaruh dari pihak ketiga.” Resikonya berat, bahwa FIFA bisa menjatuhkan hukuman kepada PSSI berupa pembekuan sebagai anggota FIFA. Kalau itu terjadi, maka seluruh wakil asal Indonesia (timnas maupun klub) dilarang melakukan hubungan internasional, termasuk terlibat di kompetisi FIFA dan AFC.

Banyak pihak memperingatkan pemerintahan Jokowi akan sanksi tersebut, baik pengamat, pemain, pembina klub, maupun pencinta bola. Tapi Jokowi tetap dengan kebijakannya, bahwa pemerintah ingin membenahi PSSI demi prestasi.

Pada akhirnya, yang ditakutkan banyak pihak itu pun terjadi. FIFA menjatuhkan hukuman kepada PSSI. Putusan tersebut diambil FIFA setelah menggelar emergency meeting Komite Eksekutif di Zurich, Swiss, Sabtu (30/5/2015).

Presiden Jokowi menanggapi hukuman FIFA dengan santai. Dia tidak terpengaruh dengan segala resiko hukuman tersebut. “Apakah kita hanya ingin ikut event internasional atau ingin prestasi? Kalau hanya ingin event internasional tapi selalu kalah, kebanggaan kita di mana?” ujar Jokowi kepada Pers sesaat setelah FIFA menjatuhkan sanksi. (Kompas, 30/05/2015)

Dijelaskan Presiden, dia menginginkan pembenahan total PSSI untuk memperbaiki prestasi sepak bola Tanah Air. Presiden menegaskan bahwa yang ingin dilakukannya adalah pembenahan total, bukan kegagalan bertubi-tubi. Pembekuan PSSI dimaksudkan untuk pembenahan dan reformasi total organisasi tersebut untuk memperbaiki manajemen dan sistem sepak bola.

“Pembenahan total artinya reformasi total, pembenahan organisasi, sistem, dan manajemen karena di tingkat pemain saya lihat sudah bagus. Tapi, di level ini harus ada pembenahan,” ujar Jokowi. (Kompas, 30/05/2015).

Indonesia kena sanksi FIFA selama setahun pas, terhitung 13 Mei 2015 (penjatuhan sanksi) sampai 13 Mei 2016 (FIFA mencabut sanksi). Selama masa hukuman tersebut, kompetisi sepakbola di Indonesia lesu, PSSI tak pernah ikut pertandingan internasional, pemain profesional hidup terlunta-lunta karena tidak menerima gaji, dan kenyataan pahit lainnya. Tetapi PSSI berbenah seperti yang diinginkan pemerintah. Pembinaan terhadap talenta-talenta hebat tetap berlangsung. Pencarian bibit-bibit unggul dilakukan secara serius.

Menuai Buah Manis

Keputusan berani selalu mengandung resiko: membuahkan keberhasilan atau kegagalan. Tapi ketakutan akan kegagalan itu juga harus berani dihadapi. Kalau gagal, maka cercaan akan semakin banyak. Tetapi jika berbuah prestasi seperti yang diniatkan, keputusan berani yang terasa pahit itu akan menguap dan disyukuri.

Sekarang masyarakat Indonesia seperti sudah lupa kalau mereka pernah dihukum FIFA. Penyebabnya adalah prestasi demi prestasi yang ditorehkan oleh PSSI semua tingkatan: U-23, U-19, dan U-16. Ketika sebelum dibekukan FIFA, PSSI akrab dengan kekalahan. Selalu kalah. Jangankan di tingkat Asia, di tingkat Asia Tenggara saja sudah tidak bertaji. Tapi kondisi begitu sudah lewat di era sekarang. Langganan kekalahan ditukar dengan langganan kemenangan. Langganan caci maki dari suporter berubah jadi pujian dan dukungan militan.

Pada Asian Games tahun 2018 kemaren, Indonesia berhasil menjadi juara Grup. Mereka menunjukkan dirinya sebagai yang terbaik dalam grup yang dihuni oleh Hongkong, Laos, Taiwan, Palestina. Indonesia kalah dalam babak perempat final melawan Uni Emirat Arab karena keputusan kontroversial wasit. Tapi semua pencinta bola memuji penampilan penampilan Garuda Muda yang waktu itu dibesut oleh Luis Milla.

Prestasi membanggakan juga diperlihatkan oleh PSSI U-16. Mereka menjuarai AFF U-16 2018, di final mengalahkan negara langganan juara, yaitu Thailand. Prestasi Garuda Asia berlanjut di kompetisi AFC U-16. Indonesia berhasil keluar sebagai juara Grup yang dihuni oleh negara-negara kuat seperti Iran, India dan Vietnam. Kesebelasan asuhan Fachri Husaini tersebut selangkah lagi jadi peserta Piala Dunia U-17. Sayang, di perempat final kalah melawan Australia.

Sekarang, prestasi membanggakan juga diperlihatkan oleh PSSI U-19 dalam kompetisi AFC U-19 2018. Indonesia berhasil maju ke babak perempat final, sebuah prestasi yang sudah tak pernah diraih selama 40 tahun –terakhir Indonesia meraih prestasi ini pada tahun 1977. Dan kita semua mendoakan Garuda Muda besutan Indra Sjafrie tersebut bisa mengalahkan Jepang di perempat final yang akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada minggu (28/10).

Tentu prestasi demi prestasi yang ditorehkan PSSI sekarang adalah hasil kerja keras semua pihak. Tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa keberanian Jokowi menentang arus dengan mengintervensi PSSI pada tahun 2015 lalu sebagai sebuah titik awal dalam melahirkan prestasi demi prestasi yang diidamkan semua pencinta bola Indonesia tersebut.

Terus jaya Garuda ku.**

*Afriadi Rosdi, penikmat bola. Ketua Pusat Kajian Literasi Media, Direktur RMBooks

Tinggalkan Komentar