Sekedar catatan ringan:

Saya melihat perkembangan menarik dari pasangan Jokowi dan Maruf Amin. Keduanya dalam satu bulan terakhir bermain metafora, pengibaratan. Bedanya, metafora yang dipakai Jokowi berasal dari rahim budaya Jawa, sementara KH Maruf Amin berasal dari literatur AlQuran. Dari Jokowi kita mendengar metafor Sontoloyo dan Gendoruwo, sementara dari Maruf Amin menggunakan metafor “budeg-buta”.

Sontoloyo adalah metafora untuk politisi yang menghalalkan segala cara dalam upaya merebut kekuasaan, termasuk menyebar hoax, ujaran kebencian, dan fitnah. Jokowi mengingatkan semua politisi untuk menjauhi ptaktek politik yang tidak beradab tersebut. Sementara istilah Gendoruwo ditujukan kepada politisi yang selalu menggunakan jurus politics of fear, retorika menakut-nakuti rakyat, menciptakan pesimisme dalam berbangsa bernegara. Mereka bahkan memanipulasi data untuk menyebar politics of fear tersebut.

Metafora Budek-Buta dari KH Ma’ruf Amin dimaksudkan kepada mereka yang tidak mau mengakui keberhasilan pembangunan era Jokowi – Jusuf Kalla. Mereka menolak segala keberhasilan itu karena faktor pengingkaran atau ketidaksukaan terhadap Jokowi.

Penggunaan metafora menunjukkan kejeniusan dalam berkomunikasi. Pesan yang ingin disampaikan oleh seorang pemimpin akan sangat mudah dipahami oleh masyarakatnya ketika disampaikan lewat metafora.

Metafora yang tepat akan memperjelas makna sekaligus meminimalkan distorsi. Ia beresonansi secara langsung dengan emosional pendengarnya, langsung klik.

Metafora membantu komunikasi kepemimpinan menjadi efektif untuk menyampaikan pemahaman terhadap maksud yang diinginkan. Seorang pemimpin tak lagi harus berbusa-busa menggunakan kalimat yang panjang untuk menyampaikan pesan utama. Kalimat panjang bahkan bisa menyebabkan distorsi atau noise, maknanya bisa dipahami secara berbeda oleh pendengar.

Metafora efektif menyampaikan pesan karena ia berasal dari rahim budaya masyarakat. Masyarakat sudah mengerti maknanya tanpa harus dijelaskan. Sehingga pesan yang ingin disampaikan dicerna secara tepat dan cepat oleh masyarakat.

Mungkin ada baiknya Prabowo-Sandiaga meniru strategi kompetitornya. Cari dan temukan metafora-metafora dari kultur Indonesia agar pesan yang ingin disampaikan langsung klik dan menghunjam ke dalam kesadaran masyarakat.

Jika kedua pasangan ini pintar bermain metafora, maka itu akan menambah bobot kampanye Pilpres. Tentu kita berharap metafora yang dipergunakan lebih banyak metafor yang membangkitkan optimisme dan harapan, metafora yang menguatkan ikatan kita berbangsa dan bernegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.