RMCO – Sampai sekarang, masih banyak warga yang memandang kompetisi politik sebagai permusuhan. Sebuah pandangan yang sangat keliru. Sehingga menghasilkan sikap yang juga keliru. Yaitu, menganggap kawan sebangsa yang berbeda pilihan sebagai musuh.

Politisi bermental busuk memanfaatkan pandangan keliru masyarakat ini, untuk kepentingan politik sesaatnya. Bahkan, mereka tak peduli dengan efek negatifnya yang sangat luar biasa. Yaitu disintegrasi bangsa, disharmoni dalam masyarakat, kekacauan sosial, dan sejenisnya.

Bangsa kita masih harus belajar banyak dalam berdemokrasi. Dan, kelompok yang sudah paham dengan nilai-nilai demokrasi dan dinamika yang dihasilkannya, harus lebih sabar menuntun/menghadapi kelompok masyarakat yg memposisikan kompetisi politik sebagai permusuhan tersebut.

Sikap politik yang diperagakan oleh elit Partai Demokrat pasca pengumuman hasil Pilpres 2019, dan silaturahmi politik putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke keluarga Ibu Megawati di hari pertama Lebaran, serta sikap bersahabat yg ditunjukkan oleh Jokowi, Megawati dan TKN (Tim Kampanye Nasional) secara umum kepada petinggi Partai Demokrat, adalah sebuah pembelajaran politik yang sangat berharga bagi masyarakat.

Memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kompetisi politik itu hanyalah ibarat pertarungan tinju atau pertarungan Mix Martial Arts alias MMA: semua jurus akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan pada saat pertandingan. Tapi setelah bel terakhir dibunyikan, sang petarung kembali berpelukan. Meski darah masih mengalir di wajah mereka sekalipun.

Kita berharap petinggi Partai Gerindra dapat mengikuti langkah politik elit Partai Demokrat: bersilaturahmi politik ke Jokowi. Akan lebih bagus lagi, jika dilanjut ke Megawati. Tunjukkan kepada masyarakat, sikap yang bersahabat dalam berpolitik. Berikan teladan kepada warga, bahwa kompetisi politik itu tak berarti permusuhan. Melainkan hanya sekedar kontestasi mencari pemenang.

Jika elit Gerindra, terutama Prabowo, melakukan hal tersebut, Insya Allah akan terjadi kesejukan luar biasa di tengah masyarakat. Keterbelahan di dalam masyarakat akan mencair. Ketegangan sosial akan mereda. Kelompok-kelompok kepentingan yang ingin memanfaatkan ketegangan politik untuk menciptakan hura-hara sosial akan kehilangan amunisi.

Silaturahmi politik elit Gerindra ke Jokowi tentu tak berarti bahwa gelaran kasus sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) dihentikan. Itu tetap dilanjut. Hanya saja, tak ada lagi kamus menggelorakan emosi warga dalam menghadapi sidang MK tersebut.

Sidang MK dihadapi secara ksatria, sesuai koridor hukum dan konstitusi. Semua dilakukan secara beradab. Jadikan sidang MK sebagai ajang pendidikan politik bagi warga, dalam rangka membangun kedewasaan berpolitik dan kematangan berdemokrasi. ***

(Sumber: rmco.id)


Leave a Reply

Your email address will not be published.