PERSPEKTIF RELATIONAL DIALECTICS THEORY

Setiap orang menginginkan hubungan yang harmonis dengan siapa saja. Tetapi ketegangan demi ketegangan sering terjadi dalam hubungan dengan orang lain dalam banyak ranah kehidupan, baik di kehidupan keluarga, pertemanan, sosial, organisasi, kantor, dan sebagainya. Relational Dialectics Theory mencoba memahami sebab-sebab terjadinya ketegangan tersebut dan upaya mengatasinya.

Relational Dialetics Theory (teori Dialektika dalam Hubungan) digagas oleh Leslie Baxter dan Barbera M.Matgomery yang dipengaruhi oleh pandangan filosof Rusia Mikhail Bakhtin. Asumsi dari teori ini adalah bahwa hubungan dalam kehidupan ditandai dengan ketegangan yang berkelanjutan antara dorongan-dorongan (impuls) yang saling bertentangan (West & Turner, 2010, p. 202) .

Dengan menggabungkan banyak konsep Bakhtin, Baxter menyebut teorinya sebagai teori dialogis tentang hubungan. Dengan kata lain, hubungan diartikan melalui sebuah dialog antara banyak suara. Pada saat yang sama, Baxter juga menggambarkan teorinya sebagai dialektis, yang berarti bahwa hubungan merupakan sebuah tempat yang menangani pertentangan. (Littlejohn & Foss, 2011, p. 245)

Dialog yang dimaksud Baxter adalah suara-suara berbeda yang menyatu dalam sebuah percakapan. Sementara dialektis mengacu pada tekanan antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan di dalam sebuah sistem. (Littlejohn & Foss, 2011, p. 245)

Untuk lebih memahami makna dialektis, bisa kita jelaskan dengan mengkonstraskannya dengan dua pendekatan yang lain, yaitu pendekatan monologis (monologic approach) dan pendekatan dualistik (dualistic approach).   Pendekatan monologis membingkai kontradiksi hubungan sebagai “yang lain”/atau (as either/or). (West & Turner, 2010, p. 202)  Kontradiksinya hanya dua kutub. Kedua bagian dari kontradiksi tersebut bersifat ekslusif, berada pada titik ekstrem yang berlawanan. Misal, hubungan anda dengan teman anda dekat atau jauh.

Sebaliknya, pendekatan dualistik melihat dua bagian dari sebuah kontradiksi secara terpisah dan tidak berhubungan satu sama lain.

Para pemikir pendekatan dialektik melihat bahwa banyak sudut pandang saling bertentangan satu sama lain dari setiap kontradiksi.

Ada empat asumsi dalam teori dialektika dalam hubungan ini (West & Turner, 2010, p. 204), yaitu:

  • Hubungan tidak bersifat linear
  • Hubungan dalam kehidupan ditandai dengan adanya perubahan
  • Kontradiksi adalah fakta fundamental dalam relasi kehidupan.
  • Komunikasi merupakan pusat untuk mengorganisasikan dan menegosiasikan kontradiksi-kontradiksi dalam hubungan.

Ketika Baxter menulis bahwa hubungan adalah dialogis dan dialektis, ia bermaksud bahwa ketegangan hubungan ditangani melalui pembicaraan yang selaras.

Seperti ditulis Littlejohn & Foss (2011), Baxter memberikan empat sudut pandang  terkait dialog relasional ini:

  1. Hubungan terbentuk melalui dialog
  2. Dialog menghasilkan kesempatan untuk mencapai persatuan dalam perbedaan
  3. Dialog adalah Estetika
  4. Dialog adalah Wacana

Pertama, hubungan terbentuk melalui dialog.

Dalam dialog kita memberi makna tentang “diri sendiri” (self), “orang lain” (the other), dan “hubungan” (relationship) yang kita peroleh dalam dua cara:

  1. Choronotopic similarity, bahwa individu menciptakan peluang, seringkali sebuah titik balik, yang selanjutnya diingat bahwa hal tersebut penting, menjadi ingatan bersama.
  2. Self-Becoming. Individu melihat adanya perbedaan antara dirinya dengan orang lain.  Hal ini memungkinkan setiap individu membuat dirinya terpisah dan berkembang sebagai seorang manusia yang berbeda, suatu konsep yang dinamakan self-becoming atau menjadi diri sendiri. 

Kedua, dialog menghasilkan kesempatan untuk mencapai persatuan dalam perbedaan.  

Melalui dialog, kita mengatur dinamika pengaruh antara kekuatan sentripetal[1] dan sentrifugal[2] –kekuatan yang memisahkan dan menarik kita bersama-sama.

Sudut pandang Baxter yang kedua ini menyatakan bahwa dialog memberikan kita peluang untuk mencapai persatuan dalam perbedaan.

Carol Warner dan Leslie Baxter menulis lima kualitas ketika hubungan berkembang (Littlejohn & Foss, 2011, pp. 247-248), yaitu:

  1. Amplitude – kualitas kekuatan perasaan, perilaku, atau keduanya.
  2. Kepentingan (salience) – kualitas fokus pada masa lalu, masa sekarang, atau masa datang.
  3. Skala (scale) —  kualitas berapa lama hal tersebut bisa bertahan.
  4. Rangkaian (sequence) – kualitas yang terkait dengan urutan peristiwa dalam hubungan.
  5. Langkah/Irama (pace/rhythm) –kualitas yang terkait dengan kecepatan peristiwa dalam suatu hubungan dan interval di antara peristiwa. Selama periode waktu tertentu dalam hubungan, peristiwa dapat terjadi dengan cara sangat cepat. Pada kesempatan lainnya, kecepatan peristiwa terasa berjalan sangat lambat.

Ketiga, dialog bersifat Estetika. 

Baxter menyatakan bahwa dialog bersifat estetis (dialogue is aesthetic) yang mencakup rasa keseimbangan (balance), kesatuan (coherence), bentuk (form), dan keseluruhan (wholesness). Seseorang tidak hanya mampu memberikan makna terhadap suatu hubungan, tetapi juga menjelaskan dan menceritakan kepada orang lain seperti apakah hubungan itu. Karakteristik dari suatu hubungan adalah refleksi atau gambaran estetisnya yang tercipta melalui dialog.

Dengan demikian, walaupun kehidupan sosial nampaknya ‘berantakan’ tetapi kita dapat memberikan rasa keteraturan (sense of order) melalui dialog. Komunikator dalam hubungan dengan orang lain dapat menkonstruksikan suatu perasaan keseluruhan dan perasaaan kesatuan yang merupakan sifat estetis dialog.

Sifat estetis dialog dapat terjadi dalam beberapa cara, misalnya menciptakan perasaan kontuinitas sementara (feeling of temporal contuinity), yaitu suatu rasa mengenai apa yang terjadi sekarang adalah terhubungan atau terkait dengan apa yang terjadi sebelumnya.

Individu juga dapat menciptakan perasaan hubungan yang menyatu (feeling of unified relationship), maksudnya walaupun terdapat perbedaan antara invidu dengan individu lain, ia tetap memiliki perasaan “bersama-sama” (being together) sebagai satu kesatuan.

Keempat, dialog adalah Wacana (Discourse)

Pandangan ini mengacu pada gagasan bahwa hasil dialog yang bersifat praktis dan estetis tidaklah muncul begitu saja tetapi sengaja diciptakan dalam komunikasi. Hubungan tidak pernah berupa serangkaian pernyataan tunggal, tetapi terdiri atas proses maju mundur yang berjalan seiring waktu.

Mengelola Dialektika

Bagaimana caranya mengelola tekanan-tekanan atau ketegangan-ketegangan yang kita temui dalamhubungan dengan orang lain, baik dalam konteks persahabatan maupuntempat kerja?  Baxter mengidentifikasiempat strategi untuk mengelola hubungan atau pertentangan (West & Turner, 2010, pp. 212-215),yaitu :

1. Cyclic alternation (Pergantian bersiklus)

Strategi pergantian bersiklus, menghadapi ketegangan bergantung pada perubahan waktu yang berjalan. Seiring berjalannya waktu, maka ketegangan dapat berkurang dikarenakan masing-masing pihak telah memiliki identitas yang lebih baik dan dapat memahami makna dialektika dengan baik.

2. Segmentation (Segmentasi)

Strategi segmentasi, menghadapi ketegangan dengan memisahkan beberapa wilayah untuk menekankan dua hal yang berbeda. Ketegangan dikelola dengan melihat situasi dan konteks dari ketegangan yang ada.

3. Selection (Seleksi)

Strategi seleksi, menghadapi sebuah ketegangan dengan membuat keputusan yang menjadi prioritas atau memilih salah satu ketegangan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu dan mengesampingkan ketegangan yang lainnya.

4. Integration (Integrasi)

Strategi integrasi, menghadapi ketegangan dengan menggabungkan ketegangan atau dialektika yang terjadi. Terdapat tiga buah strategi dalam integrasi ini yaitu:

a.  Neutralizing (Menetralisasi)

Diadakannya sebuah kompromi dari pihak-pihak yang berdialektika dengan tujuan untuk menemukan titik tengah dalam kompromi yang dilakukan.

b.  Reframing (Membingkai ulang)

Mengulang ketegangan-ketegangan yang ada dan mencoba untuk berpikir bahwa tidak terjadi ketegangan, namun dibutuhkan informasi yang mendukung dan menciptakan tidak adanya dialektika dalam hubungan.

c.  Disqualifying (Mendiskualifikasi)

Melakukan kesepakatan mengenai beberapa masalah atau dialektika yang dianggap umum terkecuali beberapa hal yang memang tidak dapat dikelola atau diungkapkan.

Pentingnya Teori Ini

Relational Dialectics Theory (RDT) ini telah memberikan pemahaman kepada kita bahwa hidup ini sangat dinamis. Ada banyak suara, pola pikir, kepentingan, tradisi-budaya, nilai-nilai, dan sebagainya, yang memiliki persamaan sekaligus juga pertentangan yang diametral. Semua itu terhubung dalam sebuah hubungan antar personal yang menghasilkan dialektika dalam hubungan tersebut: ada pertentangan, pergulatan batin, kebesaran hati untuk mengalah, mengapresiasi hal yang berbeda, menghindar dari kenyataan, dan sebagainya.

Teori RDT menjadi teropong yang tajam dalam melihat dan memahami dinamika hubungan antar personal penuh ketegangan tersebut. Sekaligus juga bermanfaat untuk diri sendiri dalam mengelola hubungan dengan orang lain menuju hubungan yang harmonis dan konstruktif.

_____________

Tulisan ini merupakan Tugas Kuliah di STIKOM-InterStudi, Jakarta.

Ulasan Bab 6 Theories of Human Communication, LittleJohn & Fross (2011),  hal 245-249 ; dan Bab 12 Buku Introducing Communication Theory, Analysis and Application, Richard West dan Lynn H. Turner (2010), hal 201-218


_____________

Referensi

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of Human Communication (10nd Edition ed.). Long Grove, Illinois, USA: Waveland Press, Inc.

West, R., & Turner, L. H. (2010). Introducing Communication Theory, Analysis and Application (4th Edition ed.). New York, USA: McGraw-Hill Higher Education.


[1] Sentripetal, sebuah konsep fisika, seperti gravitasi menarik objek ke dalam sebuah pusat.

[2] Sentripugal, putaran yang menarik objek menjauh dari objek lain.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.