Oktober 1937. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang populer disapa Buya Hamka, berkunjung ke rumah H. Agus Salim. Dengan tersenyum, Buya berkata kepada Agus Salim: “Ah, engkau terlalu lekas datang ke dunia ini. Sehingga apa yang engkau katakan dan pikirkan, belum dapat diterima oleh orang di zaman ini.  Entah, kalau 50 tahun lagi.”

Dengan tersenyum, Agus Salim berkata pada Hamka: “Perkataan yang demikian telah pernah diucapkan orang lain padaku. Prof Schrieke pernah berkata padaku: ‘Pikiran ini bukan buat 50 tahun lagi, tapi buat 100 tahun lagi’. Apakah karena ini saya kemudian akan berhenti menyatakan pikiran saya? Apa yang akan dipikirkan orang 50 tahun ke depan, jika tidak aku katakan sekarang?”

Kisah ini ditulis Buya Hamka di bukunya Falsafah Hidup (1940). Inti pesan Agus Salim kepada Buya satu: visi. Visi tak boleh absen dalam hidup ini. Apalagi dalam diri seorang pemimpin: visi mutlak diperlukan. Agus Salim dan para founding fathers kita lainnya adalah manusia-manusia dengan kekuatan visi. Leadership mereka dibangun di atas pondasi visi yang kokoh. Sehingga jika kuat pola kepemimpinannya, itu karena topangan visi pada pondasinya.

Visi selalu jauh melampaui zamannya. Karena ia adalah “penglihatan” ke masa depan, dari teropong masa kini, dan refleksi masa lalu. Jadi, visi kombinasi tiga matra waktu. Karena itu, siapa memiliki ketajaman visi akan menguasai masa depan.    

Membangun Indonesia yang dibutuhkan adalah visi. Tanpa visi, potensi yang ada akan menjadi bencana: potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, nilai-nilai kebangsaan, filosofi kenegaraan, dan lainnya. Semua potensi itu masih berupa “bahan baku”. Untuk bisa mengolahnya menjadi “bahan jadi” diperlukan visi. Agar tak terjebak pada salah kelola.

Tanpa visi, sumber daya alam kita yang melimpah bukan hanya tak akan berarti apa-apa bagi kemaslahatan bangsa ini. Tapi justru berbalik menjadi beban ekonomi. Karena menjadi objek eksploitasi ekonomi pihak ketiga. Tanpa visi, sumber daya manusia juga hanya akan menjadi beban sosial-ekonomi. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini hanya akan menjadi beban berkepanjangan hingga tahun 2030. Sebanyak 180 juta penduduk usia produktif justru akan berbalik menjadi potensi destruktif. Pancasila dan Undang-undang Dasar sebagai nilai kebangsaan dan filosofi kenegaraan juga tidak akan bisa diracik menjadi energi penggerak. Sebaliknya, tanpa visi, nilai dan filosofi itu hanya menjadi arkeologi warisan masa lalu yang bisu.

Kekuatan kepemimpinan terletak pada ketajaman visinya. Dan saat ini, model kepemimpinan dengan kekuatan visi semakin menggejala di pentas nasional. Pola kepemimpinan di berbagai bidang, politik, ekonomi-bisnis, sosial-budaya, mengarah pada visi sebagai kategori dan prasyarat utamanya. Transformasi ke pola kepemimpinan visioner ini tak lepas dari faktor tuntutan realitas sosio-politis kita. Problem yang dihadapi bangsa ini semakin kompleks. Carut marut antara sektor membuat problem-dan-solusi seperti telur-dan-ayam: saling tumpang tindih. Antara otoritas berwenang juga tak terjadi sinergi, malah terjadi saling-silang hak dan kewajiban.

Realitas sosio-politis yang semakin kompleks inilah yang menjadi altar munculnya kerinduan pada pola kepemimpinan visioner. Sebab semua masalah tersebut murni disebabkan absennya visi dalam kepemimpinan nasional.

Perlahan-lahan, kini muncul pemimpin dan generasi dengan visi yang tajam. Mereka memiliki paradigma yang jernih tentang bangsa ini. Cara pandangnya dalam melihat mana yang inti masalah dan bukan inti masalah, sangat terang. Tidak remang-remang. Semua ini karena mereka menempatkan visi sebagai pilar utama kepemimpinannya. Beberapa yang kita kenal diantaranya Joko Widodo (Walikota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta, Presiden dua periode), Ridwan Kamil (Walikota Bandung dua periode, Gubernur Jawa Barat), Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng dua periode, Gubernur Sulawesi Selatan), Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta dua periode), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya dua periode), Herman Sutrisno (Bupati Banjar dua periode), Abdul Kholiq Arif (Bupati Wonosobo dua periode), La Tinro La Tunrung (Bupati Enrekang dua periode), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta) dan banyak kepala daerah visioner lainnya.

Kita berharap pemimpin visioner terus lahir dari rahim kepemimpinan daerah dan nasional. Karena saat ini, kita bukan hanya rindu, tapi sedang sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin visioner seperti Agus Salim, Soekarno, M. Hatta, Sutan Sjahrir, HOS Tjokroaminoto, dan yang lain, dalam jumlah yang banyak. “Penglihatan pikirannya” bisa menembus masa 100 tahun ke depan. Agar Indonesia juga memiliki energi kemajuan dalam skala waktu itu juga.

* Afriadi Rosdi, Direktur RMBooks – PT Semesta Rakyat Merdeka   

*Tulisan pernah dimuat di RM Magazine PRESTISE dengan sedikit penyesuaian.

3 Responses

  1. umbul mukhtar

    tantangan masa sekarang berbeda dengan tantangan masa lalu.. era kemerdekaan orang yang cerdas belum banyak sehingga beberapa yang cerdas itu terlihat menonjol.. sekarang pemimpin cerdas banyak… masyarakat juga begitu.. sehingga pemimpin harus lebih menonjol, think outside the box. harus. kalau tidak akan ketinggalan.

    Reply
  2. ahmadi

    banyakan gubernur bupati walikota tidak mutu…. terpilih karena banyak duit… kualitasnya rendah.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.